Bisnis memang tidak bias lepas dengan adanya persaingan.Sebagai seorang entrepreneur, kita harus menganggap pesaing sebagai guru kita. Kenapa? Ini dikarenakan beberapa hal berikut :
• Pesaing akan membuat kita tahu bahwa produk/jasa kita belum sempurna
• Pesaing akan memacu kita selalu semangat dan menjalankan bisnis secara kreatif dan inovatif.
Ada beberapa jenis persaingan dalam bisnis yang bisa saya sampaikan, yakni:
• Bersaing dalam harga,
• Bersaing dalam mutu dan kualitas,
• Bersaing dalam pelayanan.
Secara umum, setiap orang selalu ingin mendapatkan produk/jasa secara sempurna, yaitu harganya murah, kualitasnya bagus, dan pelayanannya ramah. Itu memang kondisi ideal yang diharapkan semua orang. Apakah mungkin hal tersebut dapat dicapai? Menurut saya, bisa saja walaupun itu tidak mudah. Karena produk atau jasa yang berkualitas tinggi dan biasanya dihasilkan dari input dan proses yang memiliki kualitas tinggi pula. Produk yang bagus, biasanya dibuat dengan biaya operasional (operational cost) yang tinggi pula. Jadi sebenarnya sangat sulit jika produk berkualitas bagus harus dijual dengan harga murah.
Oleh Karena itu, kita harus bisa berpikir relistis dengan tetap memerhatikan keinginan konsumen. Barang bagus, harga murah, pelayanan prima. Dengan biaya operasional yang harus kita keluarkan. Berikut beberapa kiat yang bisa saya samapaikan adalah sebagai berikut :
Ciptakan Produk bagus dengan harga wajar.
Menurut saya, produk yang bagus harus diimbangi dengan harga yang wajar. Kata-kata wajar sengaja saya gunakan karena lebih pas jika dikaitkan dengan proses pemasaran. Konsumen tentu akan memahami jika kita menjual produk dengan harga yang relatif lebih mahal untuk produk-produk yang berkualitas tinggi. Kita harus bisa meyakinkan konsumen bahwa produk tersebut dijual lebih mahal karena memang kualitasnya yang tinggi. Jadi, anda selaku pemilik usaha harus bisa menjelaskan kepada konsumen mengapa produk tersebut harganya lebih mahal dibandingkan produk lain yang sejenis. Ada banyak konsumen yang tidak mempermasalahkan harga asalkan produk yang didapatkan benar-benar bagus dan berkualitas tinggi.
Jangan menjual produk jelek dengan harga murah.
Banyak pelaku bisnis bilang, kita harus menurunkan kualitas agar bisa mendapatkan harga yang murah. Saya termasuk yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Menurut saya, menjual produk jelek itu sama saja dengan “bunuh diri” secara perlahan-lahan. Kita paham bahwa produk yang jelek biasanya dikerjakan asal-asalan dan dengan bahan baku yang jelek pula. Mungkin dengan membuat barang jelek yang berharga murah anda akan tetap bisa mendapatkan keuntungan. Namun, ingat, bahwa keuntungan yang didapat hanyalah keuntungan jangka pendek. Padahal, bagi seorang entrepreneur, yang harus dikerja adalah keuntungan jangka panjang.
Jangan menjual produk biasa dengan harga mahal
Saya akan memberikan sebuah ilustrasi untuk menjelaskan hal ini. Suatu ketika dalam perjalanan keluar kota saya mampir ke warung lesehan yang ada di sebuah ruas jalan utama kota tersebut. Saya sengaja memilih tempat yang agak sepi agar bisa nyaman menikmati hidangan yang ada. Di warung tersebut hanay terdapat daftar menu tanpa mencantumkan daftar harnya. Ketika selesai makan, saya sangat terkejut dengan daftar tagihan yang harus saya bayar.
Nilainya sangat tidak wajar untuk ukuran warung makan di pinggir jalan. Bahkan, Jauh lebih mahal dengan menu makan serupa diresotoran. Selidik punya selidik, kondisi sepinya warung makan tersebut membuat banyak pembeli dari luar kota enggan dating kembali ke warung makan itu setelah merasa dijebak. Rupanya strategi yang digunakan pemilik adalah dengan menetapkan tariff lebih mahal bagi pelanggan barunya dengan pemikiran “ Ah, Paling-paling orang iotu nggak bakalan dating lagi, dia kan orang jauh.”
Dalam konteks pemsaran, pemikiran seperti itu sangat salah. Pemikiran warung makan tersebut hanya mengejar keuntungan jangka pendek, mendapatkan uang banyak dari orang-orang baru. Jadi, sangat wajra jika dari hari ke hari warung makan tesebut sepi pengunjung karena orang-orang yang pernah dating ketempat itu merasa kapok. Ketika suatu saat pedagang tersebut sadar dengan kekeliruannya maka tidak mudah untuk menarik kembali orang-orang lama yang pernah datang ketempatnya. Meski kini dia sudah menerapkan harga yang jwajar tapi pembeli sudah terlanjur memberikan penilaian jelek terhadapnya . Maka, untuk memulihkan keadaan dibutuhkan waktu yang lama.